Subscribe Twitter FaceBook

Selasa, 06 Mei 2025

Dari Gubuk ke Istana

 

Dari Gubuk ke Istana

Cerpen romantis penuh perjuangan dan harapan

Langit di Desa Senja Biru perlahan berwarna jingga. Burung-burung pulang ke sarang, sawah mulai sepi, dan Raka baru saja selesai membantu ayahnya memanen padi. Ia duduk di pinggir pematang, menatap matahari yang mulai tenggelam.

Tiba-tiba, suara langkah ringan terdengar dari belakang.

“Kamu belum pulang?” tanya Laras, gadis desa berambut hitam yang selalu memakai pita kain kuning di rambutnya.

“Belum, lagi mikirin masa depan,” jawab Raka sambil tersenyum, setengah bercanda.

“Masa depan nggak datang kalau cuma dipikirin, Ra,” sahut Laras. “Dikejar. Kayak kamu ngejar layangan waktu kecil.”

Raka tertawa kecil. “Kalau masa depan itu kamu, aku bakal lari sampai ke ujung dunia.”

Wajah Laras memerah, tapi ia tak berkata apa-apa. Ia hanya duduk di samping Raka, memandangi langit.

Beberapa minggu setelah itu, Raka memutuskan pergi merantau ke kota.

Di terminal, Laras menyerahkan sebuah buku catatan kecil berwarna cokelat.

“Apa ini?”

“Tempat kamu nulis semua mimpi-mimpi kamu. Jangan lupa ya… meskipun jauh, aku doain kamu setiap malam.”

“Aku janji, Laras. Aku bakal balik, bukan dengan tangan kosong. Tapi sebagai orang yang kamu bisa banggakan.”


Lima tahun kemudian…

Suatu malam, di restoran mewah yang menjadi miliknya, Raka duduk sendiri di kantor. Di tangannya, buku catatan pemberian Laras. Ia membolak-balik halaman yang kini penuh coretan mimpi dan rencana. Pandangannya menerawang jauh ke luar jendela.

Ia bergumam pelan, “Sudah waktunya pulang.”


Desa Senja Biru – Senja hari itu…

Laras sedang duduk di beranda rumahnya, dikelilingi anak-anak kecil. Ia mengajari mereka membaca dengan penuh sabar.

Tiba-tiba, suara mobil terdengar. Jarang sekali suara seperti itu masuk desa. Laras menoleh… dan di sana, berdiri seorang pria berpakaian sederhana tapi rapi.

“Raka?”

“Laras.”

Mereka terdiam. Waktu seolah berhenti. Laras berdiri, matanya berkaca-kaca.

“Kamu… kamu beneran balik?”

Raka mendekat, menyodorkan sebuket bunga kering.

“Ini… bunga yang dulu kita tanam. Aku rawat di pot di kota. Aku pulang bukan sebagai Raka yang kaya. Tapi sebagai Raka yang tak pernah berhenti mencintaimu.”

Laras menutup mulutnya, menahan isak.

“Aku bukan menunggumu karena harta, Ra… Tapi karena aku percaya kamu bakal pulang.”

Raka berlutut, menggenggam tangan Laras.

“Laras, maukah kamu jadi bagian dari semua mimpiku? Temani aku… bukan hanya di istana, tapi di semua langkah hidupku, dalam suka dan duka.”

Laras mengangguk pelan, air matanya jatuh. “Aku selalu mau, Raka. Selalu.”


Kini, mereka membangun hidup bersama. Raka mendirikan sekolah dan rumah baca di desa. Laras menjadi pengajar utama. Kisah cinta mereka tak hanya mengubah nasib dua insan, tapi juga membuka jalan bagi ratusan anak desa yang bermimpi besar.

Di halaman terakhir buku catatan, tertulis:

“Semua ini berawal dari cinta, ditopang oleh harapan, dan tumbuh karena keyakinan. Terima kasih, Laras… karena menungguku, percaya padaku, dan mencintaiku ketika aku belum punya apa-apa.”

0 komentar:

Posting Komentar

GuestBook

Feeds

free counters
Design by cherrystnt20@gmail.com. Diberdayakan oleh Blogger.